Selasa, 26 Januari 2010

puisi terindah


“ Kumpulan Puisi Terindah

Sempat Jadi Kata yang Indah yang Pernah Aku rasakan

Kuukir Senja

Sajak Novy Noorhayati Syahfida : R. Hadi Wijayakuukir senja di hatimu
kuberi pelangi pada kerling senyummu
sambil kulukis pantai, ombak dan perahu
di matamu
kubungkus secarik sutra ungu
dan kusimpan diam-diam dalam mimpiku
Jakarta, 22 Agustus 2002

Pernah jadi Bingkai Yang Indah Dalam Ruang kertas yang Putih Untuk kurasakan , Walau Saat Itu tak Seindah yang Aku rasakan …..:) Nih Kumpulan Puisi yang Laenya, Andai minat Ambil Aja Gpp Kok :D

Seberapa Lama Lagi

SajakArwan seberapa lama lagi kau perlu waktu
untuk mengukir namaku dalam hatimu
seberapa banyak pahatan kau perlu
untuk membuat bingkai lukisan wajahku

bila saatnya sampai kuingin pahatanmu tak tinggalkan luka

Sept. 04

Kuhampiri Engkau

SajakArwan kuhampiri engkau
yang terduduk di taman hatiku dengan tangan menyangga dagu
dengan kulitku yang dilumuri embun kubiarkan tubuhku tanpa selembar benang
sekilas terlihat kau mengintip dari sudut matamu, hanya sekilas
engkau kembali menusuk rumput hijau dengan sinar matamu, redup
kulihat rumput-rumput menengadah menatap ngangah
mungkin mengagumi sayu wajahmu yang ayu
Wajah sayu ayu lekat ke wajahku
mata indah tiada berkedip, menyelidik
aku biarkan mata hatimu masuk lewat lorong hitam mataku
agar engkau tahu, hatiku telanjang untukmu dan
kubiarkan, kuresapi kecup bibir matamu dikening hatiku
senyummu mulai beranjak bangkit
kurasakan tangan berkulit bangsawan memagut
bibir pori-pori bungkam terpana
kulit seindah putri raja menyentuhnya dengan rasa percaya

daun-daun mengangguk
tanah tersenyum bijak
daun-daun yang rela menyerahkan embun paginya
untuk jiwaku yang tengkurap saat pagi
tanah yang ikhlas memberikan sapa sejuk embun yang meresapi
untuk jiwaku yang meminta pada fajar

Sept. 10

Diriku Pucat Layu

SajakArwan angin berhembus tanpa menyentuhku
hingga kabar dari kutub tak kudengar
ombak laut enggan membelai kaki telanjangku
walau kumerangsek maju, dia mundur

kuciptakan cermin dari langit biru
kulihat diriku bercat putih pucat layu

Setp. 04

Rindu Berkalang Pilu

SajakNurani Pratiwi
Kala kelam menjaring hari
‘ku duduk disini
serupa bintang di langit sendiri
Dupa sepi
menyeruak kamar
penuhi alam sekitar

Selalukah rindu berkalang pilu
Atau cuma khayalan semu
…….bayang pengantar tidur ?

Surabaya,27 Sept 2002

Taubat

SajakM. Imam Ghozali Duh Gusti Pangeran Penguasaku
Maafkan hamba yang berhati hitam
Yang kadang terlupa dan sering sengaja
Mengaburkan nurani tuk menikmati dunia
Duh Pencipta segala rupa dan semesta
Jangan buat ini takdir abadi
Yang membuatku tak lagi mengenali-Mu
Hingga aku tak bisa memilih surga dan neraka

Duh Sesembahan abdi Maha Dewa
Terangkan mata ini dari kegelapan
Pisahkan jiwa dari keangkaraan murka
Bangkitkkan lagi birahi suci untuk memuja

Duh Sang Pengasih tiada kenal pilih kasih
Anugerahkan sedikit ketakutan
Karena aku terlalu berani untuk lupa
Bahwa alam-Mu bukan hanya dunia

Duh Raja Diraja Maha Perkasa
Hilangkan segala ragu dalam akal matiku
Penuh kebimbangan dan berselimut tanya
Adakah kebenaran dirimu berada

Duh lelabuhan akhir segenap asa
Mundurkan sejenak saat maut untukku
Sempatkan aku tahu apa yang Jibril bawa
Mungkin hati kecilku akan mampu terjaga

Terkutuklah Aku

SajakM. Imam Ghozali Terkutuklah aku mencintaimu
Karna aku bukanlah yang terpilih
Sedang aku menghinakan diri padamu
Malaikat pun tak mampu menulis Dalam garis takdir yang ada
Karna ia akan dicambuk bila mendustai tuannya

Engkau seperti bintang di langit
Aku selalu melemparimu untuk jatuh
Tapi batu itu kembali memukulku

Aku menangis kau hanya membisu
Kau tertawa aku terpaksa mendengar
Benar-benar terkutuk aku!

kalau tak mau bercinta denganku
Tak perlu kau meludah sampai aku tenggelam
Bunuh saja aku!

Bagiku cinta adalah engkau
Dan bagimu cinta adalah kepuasan
Sedang aku selalu lemah di depanmu

Andai saja ada dunia
Dimanapun…
Dan dirimu tiada…

Musisi Hujan

SajakCecil Mariani tiada rintik hujan terdengar berlalu seperti mimpi
patahan demi patahan sedu yang jadi partikelnya
di tiap butiran hujan melerai angan
sebegitukah serentetan sunyi yang telah tertata?
bermakna dalam nomenklaturnya yang rahasia
Waktu bertabrakan
ya, dan detik berhamburan
jadi ombak yang pecah waktu kita melayari kata kata
berlagak musisi layari instrumen kecintaan hati
tak lagi dengan jemari
bermetronom jantung sendiri

moderato cantabile
cressendo
cressendo..

dan rinai hujan pun bernyanyi
di langit cerah tanpa hujan sama sekali

Tangis sang pembebas

SajakDewa Agung
Langit bicara tak terdengar
Hati tak terjamah sayap malaikat
Mata enggan bersinar
Menelungkup dirawa rawa kegelapan
Aku telah lama berkabung
Atas kematianku sendiri

Aku Rindu

SajakSN. Mayasari H aku rindu
jalanan riuh surabaya yang meras peluh ayahku
megah supermarket membocorkan tabungan ibuku
dan teman kecilku yang ditenggelamkan waktu
Yogyakarta, 29 juli 2002

sajak-sajak lilis marliani

Untuk Siapakah Perempuan Hidup?

Seorang ibu menulis puisi di lenganku
Dari ujung telunjuk ditulisnya nama panjang dewi sri
Pada telapak tangan digambarnya perempuan
sedang membasuh kaki lelaki
Pada siku dibuatnya lingkaran lembut bulu angsa:
anak kucing lelap di perut bunda

“Bu, untuk siapakah perempuan hidup?”
Ibu diam sambil terus melukis kamasutra di ketiakku

Lantas aku minta digambarkan belati pada pundak
Ibu marah; aku tak peduli

Ketika ibu pergi dan tak kembali
ku gambar sendiri belati
di pundak kiri

Namanya Aida saja

Dia temanku
manis, semampai
juara kelas sejak te-ka
pernah jadi
buruh
pintal di pabrik tekstil
dekat sungai Cisadane

Dia kepingin kawin dengan angin utara
tetapi selalu angin selatan
yang mampir di beranda
dia kepingin kawin dengan rama-rama
tetapi selalu
cicak yang menyapa

Di jendela kontrakannya
senja telah melipat diri
angin pamit pulang kampung
tetapi Aida gadis tigapuluhtahunan
masih memilin-milin poninya sendiri
sampai pagi

Selalu begitu setiap hari

Dua belas tahun lewat
kebetulan kujumpa dia di stasiun kereta Gondangdia
dengan dua balita di gendongan kiri dan kanan
kembar rupanya
dan sebuah kantong plastik besar di kakinya

Entah mengapa
Aida (yang dulu) manis sekarang menangis
tangisnya lebih keras dari lengking kereta ekspres Pakuan

Mengalirlah seribu kisah tentang lelaki yang dikawininya
ternyata berhati lalat hijau bertaring hyena
bertahun-tahun setia, berdiri patuh di belakang kemejanya
mengharapkan sekedar lubang perlindungan dari sepi

“Masih adakah pabrik tekstil dekat sungai?”
Aida kepingin kembali berdiri di dekat jendela kontrakannya
bukan untuk memilin poni
melainkan memilin benang nasibnya sendiri

Nasibnya sendiri

Rumah Kelopak Mawar

Untuk Nandyasa

Tak pernah sekalipun dalam hidupku terfikir untuk berhenti memberimu
kelopak-kelopak mawar yang kutanam di beranda ketika kau baru berusia
dua hari. Dengan kelopak-kelopak itu kuajarkan kau satu-dua-tiga dan
merah-putih-hitamnya hidup. Ada keputusasaan ketika kau sulit mengeja
ma-war me-rah ke-lo-pak pu-tih sambil sebutir dua butir air mata

kita
berdua jatuh di atasnya

Pagi ini kelopak-kelopak mawar yang bertahun-tahun kita kumpulkan
dengan segenap senyum dan isak tertahan, telah menjelma rumah bagi
kupu-kupu

Puisi untuk Istri dari Lelaki yang Kupacari

Jangan tanya adakah aku mencintainya
Lelaki hyena ada di mana-mana
Jangan kira aku percaya padanya
Meskipun katanya aku Cleopatra
Padahal aku cuma stasiun kereta

Entah apa yang sedang kulakukan
Ketika kulayarkan dendamku dulu
Ia mampir menawarkan pelukan
Lantas kubayar dengan bulan setengah bulat
Melautlah segala kebencian
Yang ditanam lelaki sebelumnya

Barangkali aku memang mencintainya
Seperti cinta kanak pada peri ungu
Barangkali juga aku cuma hyena betina

Lelakimu terus menghujaniku dengan bunga dan mimpi
Sementara kudengar isak burung bangau di padang pasir

“Laut begitu jauh, begitu jauh debur ombak”
bayangmu gemetaran di tengah terik padang
tak ada tangis
ada oase di bening matamu

aku merasa bersalah

Pada bulan ke tujuh belas dendamku lunas
Cintaku ludas terus menerus dimakan bayang putihmu
Kudatangi dirimu
Kau sambut aku dengan pisau dapur di tangan

“Lihat, aku tidak memakai rok mini
aku tidak merokok
aku tidak suka film porno
aku benci diskotik
aku tidak pernah mencopet dompet suamimu
aku selalu menyuruhnya pulang ke rumahmu”

“Aku tak punya apa-apa selain suamiku”
Suaramu kah itu yang gemetar tertelan putus asa?

Ada laut memisahkan kita
Di mana perahu nabi Nuh?
Ingin aku berlayar ke pulaumu
Memeluk kakimu seperti pernah sekali
Kucium kaki bunda

Kau diam membisu di situ
Dalam api yang kukenal betul baranya
Sesungguhnya
Aku adalah dirimu
Entah di mana pernah kubaca
Perempuan di mana-mana
Kembar dalam perasaan

Kemarikan pisaumu
Biar aku mati di ujungnya
Jika ini satu-satunya cara
Menghentikan pendulum bingung
diaun-ayun waktu

Sajak tentang Diam

Sebuah diam pernah dicintai kebisingan dengan dasyatnya
hingga hampir saja ia beranjak dari pertapaanya
Seseorang yang bijak mengingatkannya bahwa diam adalah emas
bicara adalah kuburan yang dihuni sejarah kebencian

Diam-diam sang diam tak bia mengelak dicintai
kebisingan sebab sesekali kulihat dalam semedinya
ia nikmati sorak-sorai, makian, dan tangis
dengan diam-diam sekali ia bermimpi berhenti bertapa
kabur ke pulau entah yang mengizinkan
sunyi dan sorak hidup berdampingan dalam damai

Tetapi sekali lagi ia diingatkan
diam adalah adiluhung sementara kebisingan
cuma sampah di telinga

Hingga waktu sekarat di telapak tangannya
tak seorang pun tahu siapa pemenangnya

ketika si idiot jatuh cinta

Dulu pernah aku berdiam dalam kata-kata, mencoba bernegosiasi dengan
hatinurani yang tak henti-hentinya memprotes agar aku berhenti saja
mencintaimu. Sebab cinta yang tak berbalas itu taik kucing.
tetapi tetap saja aku
mencintaimu

Dengan lapang dada aku menyaksikan kau kawin dengan bulan kau kawin
dengan angin kau kawin dengan kupu-kupu kau kawin dengan kembang
bakung……..bahkan kau juga kawin dengan matahari . Lantas kau terbakar
hangus jadi debu.
tetapi tetap saja aku
mencintaimu

Seperti seekor burung yang tercecer dari kelompoknya aku menepi di
pucuk angin dan bernyanyi sendiri sembari menggenggammu dalam mimpi.
Susah payah logika meyakinkanku bahwa ombak takkan pernah kepingin
menetap di daratan. Meski memang sekali-kali ia mengunjungi kita, tapi
cuma mau mengembalikan botol aqua dan plastik chiki yang tercecer
ketika kau mengunjunginya di samudra.
tetap saja aku
mencintaimu

Lama aku berdiam dalam senyap,menjauh dari kata-kata, bermusuhan

dengan
logika. Terlalu lama mereka menyiksaku; memakiku; idiot! Padahal
kesalahanku cuma satu: jatuh cinta padamu!

Hai! Aku si idiot, jatuh cinta padamu. Dan aku bahagia.
Peduli apa!

Cimanggis 13 Februari 2000

Narsisis

setiap pagi kita saling menyapa
“selamat pagi, sayang” katamu
“mimpi indah semalam?” tanyaku
sembari mengelus hidungmu
kau balas mengelus hidungku
di cermin, kita saling memuji:
“meski kau belum mandi pun
aku betah memandangmu”
dan kau tersenyum untukku

“kamu tahu, kau satu-satunya
yang tak pernah menyakiti hatiku”
kataku, kau tersenyum lagi
“kau selau baik padaku
kau selalu mengagumiku” katamu,
“seperti juga aku mengagumimu”

orang-orang semakin jauh
meninggalkan kita dan
kita semakin erat tumbuh bersama
“kau satu-satunya yang selalu
ada ketika kuingin kau ada”

sering kita rayakan pesta gila-gilaan
di depan cermin
aku dalam gaun pesta ungu, kau juga
aku dalam lipstik ungu,kau juga
aku dalam goyang samba,kau juga
lantas kita tertawa-tawa
enak juga, hidup cuma untuk berdua
selalu sepakat untuk segala hal

sajak perempuan di bawah hujan

Perempuan berblouse kembang berdiri
di bawah hujan. Mau kemanakah dia?
Sedari tadi berdiri saja dalam resah
payungnya bergoyang-goyang digoda angin kencang
berkali-kali dihampiri bis dan mikrolet segala rupa
satu dua sedan mewah menghampirinya sekaligus
mencipratinya dengan lumpur hingga ke rok ungunya.
Tetapi tetap saja ia berdiri di situ

Adakah ia menanti seseorang yang dicintainya
sebab begitu setia ia berdiri di bawah
cuaca yang tak kenal kata kasihan

Orang-orang datang dan pergi berganti-ganti
yang tak berubah hanyalah
hujan yang turun seharian
dan perempuan berblouse kembang
setia berdiri di pinggir jalan
padahal payungnya merengek-rengek
kepengin pergi bersama angin dan hujan
yang terus-menerus menggodanya

Perempuan berblouse kembang,
sampai kapan kau menunggu?

C.22.2.00

Bagaimana rasanya jadi perempuan?

Jadi perempuan berarti jadi obyek iklan
arisan, dan kosmetik segala rupa yang dijajakan
di billboard pinggir jalan hingga di jendela-jendela internet
hingga membuatnya terus menerus menebak:
sudah sempurnakah aku?

Jadi perempuan mesti hati-hati mengurus diri
membungkus, memupur, mengoles, menyusun bermacam-
macam mimpi kalau tak ingin sendiri dimakan sepi

Jadi perempuan mesti selalu memikul ketakutan
pada tangan jahil bos di kantor, pada lelaki yang memepetmu
di bis yang sesak, pada om berhidung belang berperut buncit
yang tiba-tiba saja merasa jadi bapak dadakanmu di mal-mal
Malam hari, takut pada sopir taksi, juga pada satpam rumah sendiri
meski sudah punya herder dan alarm model tercanggih,
tetaplah kunci ganda pintu kamarmu
sebab setan yang bernama lelaki selalu bisa mendeteksi hangat tubuhmu
selalu bisa menembus dinding perlindunganmu seperti sinar laser
yang memotong-motong privasimu

Jadi perempuan di negeri ini, sungguh susah untuk merasa senang lagi

C.20.2.00

Siapa musuh kita?

Malam itu ia datang lagi.menggendong putusasanya ,mengepit
kekecewaannya yang panjang di ketiaknya yang gempal. Perempuan ini

dan
seribu perempuan lainnya baru saja pulang dari gedung majelis, minta
diberi satu atau dua kursi agar bisa menyuarakan keluhan sekaligus
harapan

Malam menggelindingkan kami pada lapar; sedari siang tak sempat
sentuh nasi box yang dibagikan seksi konsumsi. Sementara anak di rumah
berkali-kali menelpon; “Ibu lupa lagi menyiapkan makan siang dan makan
malam kita”. Lantas dijawabnya, “Kan ada supermie”. Klik, dimatikannya
handphonenya sembari menghempaskan segumpalan kertas kerja di atas
mejaku. Ia menatapku. Diamjenak. ia menghela napas, kecewa. “aku mau
nyerah”, katanya sangat lirih. aku diam. “aku sedang berjuang untuk
anak perempuanku agar kelak ia tidak diinjak-injak lelaki. Tapi
sekarang ia kelaparan di rumah “. aku diam.

“aku juga merasa jangan-jangan musuh kita bukan lelaki, sebab dari
lelaki aku dapat cinta bulat di dada, dari lelaki aku ada” aku
bertahan untuk diam. “aku tidak tahu kepada siapa kita berperang

kepada
siapa kita mesti marah,kepada siapa aku mesti memprote sebab aku
cinta lelaki.ia bapak anak-anakku. ia suami ibu yang kucintai”

sungguh,
tenggorokanku begitu gatal untuk segera menjawab. tetapi sekali lagi
aku berdiam dalam bijak

jauh dalam sayup senyap malam, aku dengar rintih istri diinjak
suaminya di depan anak perempuannya sendiri.”Ini bukan soal lelaki

atau
perempuan. ini semata soal seseorang menginjak-injak orang lain. Meski
ia bukan kita, kita bukan dirinya, tegakah kau bilang: bukan urusan
kita?”seseorang pernah mengatakan ini padaku

malam semakin dan semakin larut, sementara kami semakin larut dalam
rencana demonstrasi esok hari .aku dengar suara musik bercampur

dengkur
lelaki “aku kangen suamiku”. Entah siapa diantara kami yang
mengatakannya lebih dulu.
C.20.2.00

Seseorang Sedang Merindukanku

Aku ingin pulang
pada nafas guguran kembang ketumbar
tlah berapa musim kerut di ujung-ujung
senyummu, keriput tangan,
hangat pada pipi, tersimpan rapi
dalam kenangan

Membacamu dalam mimpi
adalah kepingan masa kecil
meloncat dari saku

Selalu meneduhkan;
seseorang tak putus-putusnya mencintaiku
begitu saja tanpa kuminta

C.23.00

Pencarian 1

Perjalanan ini berawal dari nada musik subuh menembus jendela dan
berakhir pada tanah tak bertepi.
Pencarian yang tak pernah berhenti meski pada sebuah akhir: kering
telapak tangan dan hati yang terus-menerus kepingin pergi; mencari.

Di bukit kesejukan dan janji menanti pendeta-pendeta berjubah ungu
menggengam kembang teratai.
Doa-doa ditaburkannya di ubun-ubunku. Sungguh, aku tak merasakan
apa-apa meski seruling menarik-narikku pulang kembali ke hati mereka.

Pada waktu yang tak kuingat, aku tiba di padang darah dan dendam.
Seperti juga nenek moyangku ratusan tahun lalu, anak-anak kecil
berbaju putih menanam dendam pada tanah-tanah sengketa. Perseteruan
ditulis dengan darah. Tak seorang pun berani menggugat; semestinyalah
bisa ada damai di sini, meski barang sejenak ketika aku lewat.

Pada bulan purnama entah yang ke berapa, seingatku aku bermukim di
kerajaan awan. Ibu-ibu menanam gandum di langit mendung dan
menyiraminya dengan air mata dua kali setahun. Pemuda-pemuda lajang
menanam layang-layang di langit dan melilitkan benangnya di leher
masing-masing.

C.5.2.00

Jakarta 1

tukang becak memeluk mimpinya sendiri
punggungnya basah,
adakah gigil di hati?

hujan bulan januari seperti
hujan bulan-bulan sebelumnya
terasa manis di lidah
adakah engkau juga rasakan?

C.19.1. 00

Jakarta 2

kita tak lagi menanam benih di ladang
tapi di pasar bursa dan kaki lima

anak-anak tetap melukis langit
dengan potlot warna-warni
pada layar monitor dan tembok tetangga

Jakarta 2

Seharian aku menanam impian
pada tembok-tembok Jakarta
menanam dendam pada jalanan
sorenya kukubur sepi
pada kerdip café
atau sendirian di wese
menghitung nafas yang tersisa

Selalu aku ingin kembali
pada segala yang tak lagi dimiliki
semacam kerakusan kah?
atau kesadaran telat?
bahwa sesungguhnya aku cuma
sebagian kecil dari deras arus waktu
c.27.1.00

gerimis di jalan

‘Pernah kau rindu aku?’
Tiba-tiba pertanyaanku
ditertawakan langit
Sesungguhnya, lumrah sekali
beberapa ibu melahirkan bayinya
jauh di luar ingatannya

Membujuk diri sendiri, sungguh tidak mudah;
kau sedang memasak pepes ikan teri
dengan bumbu cinta menanti di beranda
kapan aku pulang ke pelukan teduhmu

Ibu bisa punya seribu wajah sejuta hati
ibu bisa jadi bulan dalam mimpi
lebih sering lagi ia jadi beludak
dalam kehidupan sehari-hari
kadang-kadang ia mawar
sekaligus duri batangnya

Ibu pasti marah kalau kuminta
sekali-kali jadi bunda theresa

Sesungguhnya sederhana saja,
kalau ia mencintaiku, aku tak kan ada
di perempatan jalan ini bersama
harapan-harapan berjatuhan
seperti gerimis

Sering aku bermimpi;
Ibuku adalah megawati yang menjual kharisma
Ibuku adalah karlina yang menaburkan air mata
Ibuku adalah khofifah yang membagikan kata-kata
Sekali-kali ibuku ada di antara perempuan-perempuan
berselendang sutera menawarkan nasi bungkus
Tapi tak satupun yang berani
menawarkan pelukan

Tak satu pun

C.23.1.00

ibu 1

melukismu,
aku tak punya warna apapun
selain marah menahun
tersisa dari terlalu sedikit masa
yang pernah kita miliki berdua
c.23.1.00

Sungai Belah Rumah

Ada sungai membelah rumah
Bermula dari retakan ubin dari teras hingga kamar tidur
Berbarengan dengan waktu dan cinta semakin menipis
menjelma sungai mengaliri duka ke muara entah di mana
Ketika saling membenci untuk alasan yang tak jelas,
kita lemparkan kursi ke sungai
Ketika sedang birahi, kita berenang-renang di arus hangatnya
Ketika kehabisan uang, kita tangkap seekor sepat gemuk
Anak-anak melayarkan perahu kertas

Sungai semakin hari bertambah menganga
Tetapi kau selalu bilang tak apa,
toh kita menikmatinya juga
Hingga subuh-subuh kudengar
anak kita tenggelam di sana
c.24.1.00

Nekat
( mengenang Tm)

Bermain layangan
langit mendung sekali
ada petir sesekali
geluduk lebih sering lagi
Tapi aku riang menarik ulur tali kama
kau di sana menari-nari
menggoda mendung
lebih ngamuk lagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar